Pemula-pemula kecil bermimpi

Surat kuasa adalah perjanjian yang berisi pempemberian wewenang sehingga yang menerima kuasa berhak melakukan sesuatu urusan khusus/tertentu atas nama pemberi kuasa.

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer), diatur mengenai kuasa yaitu dalam Pasal 1792 Pemberian kuasa ialah suatu persetujuan yang berisikan pemberian kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk melaksanakan sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa.

Ada beberapa jenis surat kuasa, yaitu :

  1. Surat kuasa umum : pemberian kuasa mengenai pengurusan (beherder) atau manajer untuk kepentingan pemberi kuasa (Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, hlm. 6). Surat kuasa umum tidak dapat dipakai untuk dapat tampil di depan pengadilan, contoh kasus sekaligus yurisprudensi Putusan Pengadilan Tinggi Bandung No : 149/1972 (2 Agustus 1972). Contoh surat kuasa umum adalah surat kuasa kepada pimpinan cabang untuk mengurus bank cabang daerah tertentu.
  2. Surat kuasa khusus (Pasal 1795 KUHPer) : pemberian kuasa mengenai satu kepentingan tertentu atau lebih. Biasanya kuasa ini adalah kuasa yang dipakai untuk berperkara di muka pengadilan.
  3. Surat kuasa istimewa (Pasal 1796 KUHPer) : pemberian kuasa untuk tindakan tertentu yang sangat penting, misalnya :
  • Untuk memindahkan benda-benda milik pemberi kuasa, atau untuk meletakkan hipotek (hak tanggungan) di atas benda tersebut;
  • Untuk membuat perdamaian dengan pihak ketiga;
  • Untuk mengucapkan sumpah penentu (decisoir eed) atau sumpah tambahan (suppletoir eed) sesuai dengan ketentuan Pasal 157 HIR atau Pasal 184 RBG.

 

  1. Kuasa Perantara : kuasa ini dibangun berdasarkan Pasal 1792 KUHPer dan Pasal 62 KUHD, misalnya agen perdagangan.

 

CARA MENYUSUN SURAT KUASA KHUSUS

Pada prinsipnya, tidak ada format baku/khusus tentang penyusunan surat kuasa. Namun harus diketahui konsep/tata cara pembuatan surat kuasa, baiks sebagai orang hukum maupun orang umum.

  1. Dibuat Pihak Yang Berwenang

Artinya adalah bahwa yang memberi kuasa adalah orang yang berwenang, misalnya untuk mewakili perusahaan yang berwenang adalah direksi (Pasal 1 angka 5 jo. Pasal 98 UU No. 40 Tahun 2007). Untuk menentukan dia berwenang atau tidak dapat kita buktikan dengan identitas (KTP/SIM/Akta mengenai Data Perseroan).

 

Contoh :

“ABC, selaku Direktur PT. X, beralamat di Jl. Raya Apa Saja, berdasarkan Akta No : XXX, dalam hal ini memilih tempat kediaman hukumnya yang tetap di kantor kuasanya tersebut di bawah ini, dengan ini menerangkan memberi kuasa kepada :

  • XXX;
  • YYY
  1. Materi Yang dikuasakan

Materi yang dikuasakan merupakan hal penting karena berkaitan dengan ruang lingkup pekerjaan yang akan dikerjakan si penerima kuasa. Materi ini disebut obyek yang dikuasakan harus jelas. Ketiadaan atau ketidakjelasan obyek kuasa akan menyebabkan surat kuasa tidak sah (Putusan MA no : 288 K/Pdt/1986.

 

Yang perlu diperhatikan adalah obyeknya/pekerjaan yang akan dikerjakan apa.

Bertindak sebagai penggugat, dalam SKK harus pula disebutkan kompetensi relatif pengadilan dan pihak yang berperkara. Ketiadaan penyebutan kompetensi relatif dan pihak yang berperkara akan menyebabkan surat kuasa tidak sah (Putusan NO 34/10 K/Pdt/1983, Putusan 57 K/Pdt/1984). Terhadap SKK yang tidak sah, maka gugatan dinyatakan tidak dapat diterima.

Namun, apabila menyebutkan nomor perkara, sekalipun tidak menyebut pihak dan kompetensi relatif, maka SKK tersebut tetap dianggap sah (Putusan MA No. 115 K/Sip/1973).

 

  1. Materi Pendukung

Materi ini merupakan pendukung untuk melaksanakan pekerjaan yang dikuasakan, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh si penerima kuasa.

 

  1. Penutup

Dalam penutup, biasa disebutkan hak si penerima kuasa seperti : hak retensi dan honorarium. Selain itu, dijelaskan pula mengenai tempat dan tanggal pemberian kuasa. Yang tidak boleh lupa adalah masalah pembubuhan TTD di atas materai. Letak materai ada di pemberi kuasa.

 

Contoh :

“Surat Kuasa ini juga diberikan dengan Hak Substitusi baik untuk sebagian maupun seluruhnya.

 

Surat Kuasa ini diberikan dengan Hak Retensi dan honorarium menurut peraturan perundang-undangan.

Surat Kuasa ini ditandatangani di xxxxxxxxxxxxxxxx pada tanggal xxxxxxxx.

Pemberi Kuasa,                                                                               Penerima Kuasa,

Materai

 

Demikian sekilas tentang surat kuasa.

Sepi

entah mengapa, tawa betah lama-lama dalam sunyi

salahkah bila dalam kesendirian mencemaskanmu tak kunjung datang?

entahlah, aku seperti mati suri

Masih saja dia merindu kata yang telah ingkar janji

menanti isyarat yang bahkan sejak semula sudah usai

menyisakan luka pada tiap sisi

menuntun langkahnya kepada batas ilusi

 

Memang, ini seperti suratan takdir

ketika kata pergi menyingkir

Puisi masih saja setia menantinya sampai akhir

dalam doanya paling dalam, berharap semoga ada kabar dia akan hadir

 

Puisi menjadi penunggu

nyanyiannya berubah sendu

rintihnya begitu dalam dan pilu

menangisi jarak antara puisi dan kata yang dirindu sejauh sekarang dengan masa lalu

 

Puisi jadi pemurung, kasihnya hilang ditelan awan

kisahnya jadi angan

diapun merelakan

Mencari Kata (Merelakan Puisi)

aku jatuh cinta kepada kata
namun yang dapat kuungkapkan kepadanya hanya barisan koma
cinta penuh koma
rindu penuh koma
dahaga penuh koma
mengingatnya? adalah percuma

dan aku sudah merelakan puisiku menjadi monumen yang akan selalu ditangisi
sebab kata yang dinantikan hadir menyempurnakan baitnya tak kunjung berlabuh
meski doa diucap berpuluh-puluh dan berpeluh-peluh

kini, kurelakan tiap baris darinya jadi reruntuhan rasa
lalu jadi kuburan kata
dan batu nisannya? seorang kamu yang lebih mencintai koma
(kamu dan kata telah bermain mata)

Kepada Adekku

Aku menggigil, pada rindu yang tengil
Kepadamu adik kecil, cintamu di laut sudah kau ikrar, semoga berhasil

Aku pulang ke kampung halaman
disambut cerita yang sepertinya masih adem dan rahasiaku duduk dipangkuan bapak dengan nyaman

Ayunan tempat bermainan siampudan
masih terikat disalah satu dahan pokok jambu air, berdiri kokoh dipojok kanan

adek menyapaku, ambillah buahnya yang paling kecil
yang besar sudah dicuri hujan, pada sore yang menggigil
tapi aku masih menyimpan senyumnya untuk abang, kusembunyikan dibalik kerikil
aku menjaganya aman, dipundakku aku menenteng bedil
sebab aku telah lama menunggumu pulang pada rindu yang tengil

aku menyeduh kopi duduk pada Bebek, besi tua yang sedang memanas
menutup malu wajahnya karena cicilannya belum lunas-lunas
kata ibu “nak, kuliahmu harus segera tuntas, kalau ga nasib kita bisa bablas”
aku menyeruput kopi manis, terpendar wajah ibu di mataku, jawabku “sabar ibu, cintamu pasti berbalas”

Senandung Kemarau

hujan jadi buronan
kali ini menghindar dari insan durhaka, bersembunyi dibalik bukit-bukit
berteman dengan syair meski hanya sebaris atau sebait
ditulis pesan untuk langit
“adakah pelipur bagi hati menjerit
yang memilih jiwanya sakit
berbalas cinta begitu pahit”

Tak perlu kau perbanyak kiasan
biarkan juru kunci bekerja sesuai pesanan
sendau gurau dipersembahkan kepada alam dari mulut komat kamit pawang
meminta cinta dalam rupa hujan
“hujan di awan bergegaslah datang, adakah pantang yang kami langgar
berilah kami banjir sukacita wahai kamu yang maha mendengar”

Kumpulan rayuan tak mempan
celoteh di mimbar jadi hambar
hati-hati ini bualan hampir terbongkar
pawang pensiun, menangisi kemenangan, di ketiak awan
bersyukur harga dirinya masih ada, meski hanya kenangan
dia berteduh di bawah teriknya rindu kepada hujan
tak sadar hujan juga punya tuan, disebut yang agung, Tuhan bukan bagian dagelan
siapakah yang akan menjenguk kita mahluk pecicilan?

kemarau tersesat di sarangnya
tak dikenal pula siapa diranjangnya
lagu merdu jadi ratapan sepuh
alam tak peduli, tak juga berpaling luluh
coba kayuh makin jauh
mana tau atap berdendang luruh
menjawab doa yang berpeluh-peluh

alam mengirim kode intelijen, ini adalah pesan rahasia
“Siapa anda jadi laknat wahai manusia?”

awan, langit, bukit, semesta menulis kisahnya sendiri
dan manusia meratapi ulah tangannya sendiri
“nista kita, ini nasib diskakmat, inikah pertanda kiamat?”

hujan tertidur pulas,
tidak mau genjatan, katanya sudak muak dan mulas
bablas